0

Candi Mendut, Mendut, Magelang

Candi Mendut adalah sebuah candi berlatar belakang agama Buddha. Candi ini terletak di desa Mendut, kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, beberapa kilometer dari candi Borobudur.

Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.
[sunting] Arsitektur candi

Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa kecil yang terpasang sekarang adalah 48 buah.


Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda.

Pada kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan jataka.
Hariti.

Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāṇi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru, dua bidadari, Harītī (seorang yaksi yang bertobat dan lalu mengikuti Buddha) dan Āţawaka.
Buddha dalam posisi dharmacakramudra.

Di dalam induk candi terdapat arca Buddha besar berjumlah tiga: yaitu Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan (mudra) dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat relief berbentuk roda dan diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi. Sekarang di depan arca Buddha diletakkan hio-hio dan keranjang untuk menyumbang. Para pengunjung bisa menyulut sebuah hio dan berdoa di sini.


Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama Dwijeswara. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan.
Maka berjalanlah beliau untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada, dibawa di pakaiannya. Maka kata sang brahmana: “Kubawanya ke sungai, sebab aku merasa kasihan.” Maka iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. Si Astapada merasa lega hatinya. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Ia tidur dengan nikmat, hatinya nyaman.

Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang ke mari untuk tidur, ceritakan padaku, aku mangsanya.”

Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Segeralah keluar si ular katanya: “Aku ingin memangsa matanya kawan.” Begitulah perjanjian mereka.

Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh, sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. Sama-sama buruk kelakuannya.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. Ia ingin melunasi hutangnya, maka pikirnya. “Ada siasatku, aku akan berkawan dengan keduanya.” Maka ujar si kepiting, “Wahai kedua kawanku, akan kupanjangkan leher kalian, supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana.” – “Aku setuju dengan usulmu, dengan segera.” Begitulah kata si gagak dan si ular keduanya. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika. Matilah si gagak dan si ular.

Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini:

Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Danau itu sangat permai, banyak tunjungnya beranekawarna, ada putih, merah dan (tunjung) biru.
Ada angsa jantan betina, berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal airnya dari telaga Manasasara.Adapun nama angsa itu, si Cakrangga (nama) angsa jantan, si Cakranggi (nama) angsa betina. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati.
Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Si Durbudi (nama) si jantan, sedangkan si Kacapa (nama) si betina.
Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. [Kedua] angsa, si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura; si Durbudi dan si Kacapa. Katanya:
“Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Kami ingin pergi dari sini, sebab semakin mengeringlah air di danau. Apalagi menjelang musim kemarau.Tidak kuasalah kami jauh dari air. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini, mengungsi ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Amat murni airnya bening dan dalam. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Di sanalah tujuan kami kawan.” Begitulah kata si angsa.Maka si kura-kurapun menjawab, katanya:
“Aduhai sahabat, sangat besar cinta kami kepada anda, sekarang anda akan meninggalkan kami, berusaha untuk hidupmu sendiri.
Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda, tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut, dalam suka dan duka anda. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian.

Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada akal. Ini ada kayu, pagutlah olehmu tengah-tengahnya, kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu, [hanya] janganlah kendor anda memagut, dan lagi jangan berbicara. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti, janganlah hendaknya anda tegur juga. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. Itulah yang harus anda lakukan, jangan tidak mentaati kata-kata kami. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan, akan berakhir mati.”Maka demikianlah kata angsa.
Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura, ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa, di sana dan di sini, laki bini, kanan kiri.Segera terbang dibawa oleh angsa, akan mengembara ke telaga Manasasara, tempat tujuan yang diharapkannya. Telah jauh terbang mereka, sampailah di atas ladang Wilanggala.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Si Nohan nama si anjing jantan, si Babyan nama si betina. Maka mendongaklah si anjing betina, melihat si angsa terbang, keduanya sama menerbangkan kura-kura. Lalu katanya.“Wahai bapak anakku, lihatlah itu ada hal yang amat mustahil. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering, sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa, begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan.
Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura, marahlah batinnya. Bergetarlah mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering, sarang karu-karu.
Maka mengangalah mulut si kura-kura, lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina.Si angsa malu tidak dipatuhi nasehatnya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara.

Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. Suatu hari Dharmabuddhi menemukan uang dan bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. Lalu mereka berdua menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon. Setiap kali mereka membutuhkan uang, Dharmabuddhi mengambil sebagian dan membagi secara adil. Tapi Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Ia lalu menuduh Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum.
[sunting] Relief 4 (Dua burung betet yang berbeda)
Dua burung betet yang berbeda.

Relief ini melukiskan cerita dua burung betet bersaudara namun berbeda kelakuannya karena yang satu dididik oleh seorang penyamun. Sedangkan yang satu oleh seorang pendeta.

Persis di sebelah candi Mendut terdapat vihara Buddha Mendut. Vihara ini dahulunya adalah sebuah biara Katholik yang kemudian tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat pada tahun 1950-an. Lalu tanah-tanah rakyat ini dibeli oleh sebuah yayasan Buddha dan di atasnya dibangun vihara. Dalam vihara ini terdapat asrama, tempat ibadah, taman, dan beberapa patung Buddha. Beberapa di antaranya adalah sumbangan dari Jepang.

Read more
0

Candi Muara Takus

Candi Muara Takus adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Riau, Indonesia. Kompleks candi ini tepatnya terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar atau jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru, Riau. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir Sungai Kampar Kanan.
Kompleks candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan Candi Tua, Candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk. Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.
Selain dari Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, di dalam kompleks candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Di luar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.
Kompleks Candi Muara Takus, satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Buddha berkembang di kawasan ini. Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya. Yang jelas kompleks candi ini merupakan peninggalan sejarah masa silam.
Read more
6

Candi Laras


Mungkin tidak banyak orang yang tahu tentang situs purbakala Candi Laras, apalagi menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Hal ini memang disadari, karena situs purbakala Candi Laras terletak jauh dari ibukota kabupaten apalagi propinsi. Letaknya sekitar 30 kilometer dari Kota Rantau, tepatnya di sebuah desa di Margasari Kecamatan Candi Laras Selatan.
Secara fisik, bangunannya berupa sumur tua dan terdapat beberapa batang kayu ulin besar yang berumur ratusan tahun yang tertanam tidak jauh dari sumur tersebut. Lokasinya pun terletak di sebuah pematang yang dikelilingi persawahan warga sekitar. Selain itu, ada dua buah batu besar yang oleh warga sekitar disebut Batu Babi. Saat ini, benda sejarah tersebut disimpan di Museum Banjarbaru.
Situs purbakala Candi Laras ini diperkirakan dibangun pada 1300 Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang warga Tapin.
Kalau dilihat dari tahun berdirinya, sebenarnya Candi Laras lebih tua dari candi serupa yang ada di Amuntai yakni Candi Agung yang didirikan pada saat pemerintahan kerajaan Negara Dipa, 1350 Masehi.
Namun dari aspek pengelolaan aset sejarah, Candi Agung memiliki daya pesona yang menarik wisatawan ketimbang Candi Laras. Laiknya sebuah ladang yang tidak memiliki nilai historis, sehingga terlalu tendensius ketika situs purbakala Candi Laras ini dikatakan sebagai salah satu objek wisata sejarah di Kabupaten Tapin.
Untuk bisa sampai ke lokasi situs purbakala ini saja, pengunjung harus menggunakan sampan yang oleh warga sekitar disebut jukung atau dengan Kelotok. Sebab, tidak adanya jalan darat yang menghubungkan lokasi Candi Laras dengan desa sekitarnya. Meski sebenarnya, jarak antara situs purbakala ini dengan desa sekitar relatif dekat hanya sekitar satu kilometer.
Perbedaan Religiusitas
Sebenarnya tulisan ini hanya merupakan bentuk keprihatinan penulis (mohon maaf kalau terlalu emosional) sebagai warga yang terlahir di ‘tanah candi’ terhadap peninggalan sejarah umat Budha ini, dan tidak berupaya mengulas secara historis ilmiah tentang eksistensi situs purbakala Candi Laras tersebut.
Selama ini sekitar satu dasawarsa, sepengetahuan penulis belum ada komitmen yang visioner dari pemerintah daerah terhadap pelestarian aset sejarah ini. Alih-alih pemerintah propinsi yang jauh dari lokasi situs purbakala Candi Laras, ‘Sang Raja Tapin’ yang duduk tegar di singgasana pun seakan tidak pernah hirau pada pelestarian aset yang bernilai historis ini. Apalagi berniat mengelolanya sebagai objek wisata sejarah. Spirit untuk melestarikan aset sejarah ini sepertinya belum tertuang dalam sebuah komitmen yang praktis, sehingga belum ada strategi dan pola pengelolaan terhadap situs purbakala Candi Laras.
Bukan sebuah alasan yang bisa menjustifikasi, keengganan untuk melestarikan aset sejarah ini dikarenakan Candi Laras merupakan candi yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita yang notabenenya beragama Budha atau Hindu. Maka, ketika saat ini kita tidak lagi menganut agama yang diyakini nenek moyang kita, semangat untuk melestarikan aset sejarah bernuansa agama yang berbeda tersebut menjadi pudar seiring transformasi kepercayaan (religiusitas) masyarakat yang notabene saat ini beragama Islam. Kalau hal ini menjadi mindset mayoritas warga, apalagi misalnya bagi petinggi daerah ini, betapa hal ini sangat memiriskan hati.
Kalau dibandingkan dengan bangsa India, misalnya, tentu hal ini menjadi potret yang antagonis. Karena, pada umumnya tempat yang menjadi lokasi wisata yang merupakan peninggalan sejarah tidak didasarkan pada kesamaan religiusitas. Seperti Taj Mahal dan sebagainya yang merupakan peninggalan sejarah agama Islam yang notabene berbeda dengan religiusitas mayoritas yang dianut masyarakat India saat ini, namun komitmen untuk melestarikan aset sejarah mereka terlihat begitu kuat.
Pendurhakaan Sejarah
Ada sebuah harapan yang terpatri di hati warga untuk melestarikan eksistensi situs purbakala ini, meski tidak didesain dalam bahasa verbal menjadi sebuah aspirasi yang harus disampaikan kepada petinggi daerah. Keinginan nonverbal ini, semestinya direspon sebagai sebuah landasan dalam mengelola dan membangun Tapin ke depan.
Komitmen yang visioner dan berwawasan historis, merupakan harapan nonverbal masyarakat sehingga mereduksi sangkaan bahwa petinggi daerah tidak memiliki selera pelestarian sejarah yang cenderung durhaka terhadap peninggalan nenek moyang sendiri.
Penisbahan ini tentunya sangat beralasan, karena sumber kekuatan finansial dan relasi kekuasaan terletak pada ‘Sang Raja’ dan koleganya sebagai pemegang amanah masyarakat. Meskipun tanggung jawab ini pada dasarnya bersifat kolektif, tetapi backing utamanya berada di pundak pepimpin. Dalam hal ini adalah pemerintah daerah.
Ramah Terhadap Sejarah Lokal
Dalam konteks lokal kekinian, arus desentralisasi dan otonomi daerah merupakan kesempatan yang amat berharga dalam mengelola dan mengembangkan daerah ke depan. Dengan semangat NKRI, pemerintah daerah harus berupaya mengembangkan daerahnya lebih maju tanpa mengorbankan kekhasan identitas dan jatidiri daerah masing-masing.
Dari awal perumusan konsep desentralisasi dan otonomi daerah, disadari betul bahwa sebuah keniscayaan ketika desentralisasi dan otonomi daerah betul-betul diimplementasikan akan membuka kran pluralitas jatidiri lokal dalam lingkup NKRI.
Bahkan sejarah terbentuknya republik ini pun, sebenarnya didasarkan pada kebhinnekaan yang dibungkus dalam keikaan. Meski dalam dinamika politik bangsa Indonesia, dari rezim yang satu ke rezim yang lain, kebhinnekaan mengalami pasang surut. Karena, selama kurang lebih tiga dasawarsa, pada saat orde baru kebhinnekaan dibunuh di atas altar keikaan.
Oleh karena itu, pada pascaorde baru ini kesadaran bahwa kita adalah bangsa yang majemuk mesti dipupuk dan dikembangkan kembali dalam menatap masa depan bangsa. Tentu saja bukan merupakan sesuatu yang tabu bahkan menjadi sebuah keharusan, paradigma pembangunan daerah harus ditata dan didesain dalam konteks kelokalan dan bertumpu pada identitas dan jatidiri lokal.
Namun pertanyaannya saat ini, apakah kesadaran ini sudah betul-betul masif dan menjadi spirit pemimpin di tingkat lokal, sehingga kesadaran untuk mengembangkan daerah bertumpu pada identitas dan jatidiri lokal benar-benar menjadi strategi pembangunan di daerah.
Dalam hal ini penulis sangsi, kesadaran ini telah tumbuh dan betul-betul menjadi salah satu misi pemimpin di tingkat lokal (mungkin tidak seluruhnya) yang terpola dalam strategi membangun daerah ke depan.
Hal ini tecermin dari komitmen miring pemimpin di daerah kita terhadap apresiasi aset sejarah, sebagai salah satu aset budaya pada zamannya. Padahal, sebenarnya aset sejarah seperti situs purbakala Candi Laras jelas merupakan salah satu identitas kelokalan di masa lampau dan harus dilestarikan.
Penulis berharap, tulisan ini mampu menggugah hati pemimpin daerah khususnya ‘Sang Raja’ dan koleganya yang ada di kampung halaman penulis. Semoga keprihatinan penulis sebagai putra yang lahir dan dibesarkan di ‘tanah candi’ mendapat respon positif, sehingga ada komitmen yang visioner terhadap pelestarian aset sejarah di Kabupaten Tapin. Dan, tidak hanya situs purbakala Candi Laras, tetapi aset sejarah dan budaya lainnya. Semoga.
Saidan Pahmi
Pengurus Lintas Pemuda Bastari (el-MB)
tinggal di Banjarmasin
Read more
0

Candi Agung di Amuntai Tengah,Kalimantan Selatan

Candi Agung Amuntai merupakan salah satu obyek wisata paling favorit bagi masyarakat Amuntai. Obyek ini terletak di Desa Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah. Candi Agung Amuntai merupakan peninggalan Kerajaan Negaradipa yang dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi. Dari kerajaan ini akhirnya melahirkan Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran Sungai, Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Pangeran Surianata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai.
Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan candi ini pun masih terdapat disana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa.
Tips perjalanan
Amuntai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), berada di Provinsi Kalimantan Selatan. Tak sulit menjangkaunya. Dari berbagai kota di Indonesia bisa naik pesawat terbang menuju Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.
Kemudian kita bisa mencarter mobil travel. Biar lebih mudah, sebaiknya dipandu oleh pemandu wisata setempat yang memahami seluk-beluk Kota Amuntal agar perjalanan wisata di kota bermonumen Bebek Alabio ini berlanjalan lancar.
Sumber: Majalah Travel Club
Read more
0

Situs Goa Sentono






situs gua sentono ialah sebuah situs yang dibuat dengan memahat sebuah batu yang menjadi semacam gua buatan. kemungkinan bangunan ini berasal dari jaman mataram kuno. di gua ini terdapat 3 ceruk.

ceruk pertama berisi lingga yoni dan di dindingnya berisi dewa-dewa umat hindu anrtara lain ialah durga dan agastya. di ceruk kedua. berisi lingga yoni dan 3 buah arca yang kurang jelas arca siapa tersebut. dan di ceruk terakhir seperti sebuah lubang yang ku yakini ini berupa lubang pembakaran/ peribadatan yang bentuknya mirip dengan yang ada di candi ijo.

situs ini berada di dusun candi abang, jogotirto, berbah, sleman. tepatnya berada di jalur menuju bukit candi abang. dan apabila anda ingin ke situs ini di harapkan menuju jalur jalan prambanan-piungan dan lihat plang hijau menuju candi abang. patohannya ialah bukit candi abang itu, sebab situs ini berada di kaki bukit.


NB : dengan anda mengunjungi situs cagar budaya dan sejarah bangsa ini, secara tidak langsung anda telah melestarikan saksi sejarah bangsa yang masih tersisa.. dan jangan biarkan batu-batu kuno tersebut hanya dijadikan sebagai dongeng masa kecil kita yang lambat laun bisa punah dikikis jaman..
Secara administratif Situs Goa Sentono berlokasi di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Lokasinya berada di kaki bukit dan berdekatan dengan Candi Abang. Situs Goa Sentono adalah goa buatan yang di pahat pada sebuah batu, sehingga lebih tepat jika disebut sebagai ceruk.
Pada Situs Goa Sentono terdapat dua buah ceruk. Pada dinding dan lantai ceruk sebelah kanan didapati sebuah cekungan. Diduga cekungan tersebut merupakan tempat untuk meletakkan arca. Pada dinding Ceruk sebelah kiri terdapat dua pahatan tokoh yang belum di ketahuai identitasnya, dan sebuah pahatan menyerupai sepasang lingga yoni. Di antara kedua ceruk tersebut terdapat pahatan Trimurti yang di hadapanya terpahat sepasang lingga yoni.
Dengan adanya pahatan Trimurti dan pahatan berbentuk sepasang lingga yoni, telah menunjukkan bahwa latar belakang keagamaan Situs Goa Sentono adalah Hindu. Situs yang serupa dengan Situs Goa Sentono juga di temukan di Jawa Timur, yaitu Situs Goa Selomangleng di Kediri dan Goa Selomangleng di Tulungagung. Situs-situs tersebut benar-benar mirip dengan situs Goa Sentono. Namun hal ini tidak begitu mengherankan, sebab sekitar abad ke 10 pusat pemerintahan Kerajaan Mataram kuno berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
Read more
0

Arca Gupolo

Lokasi :
Situs arca ini berada di Ds.Sambirejo, Kec.Prambanan, Kab.Sleman - Yogyakarta dan berada di tengah hutan.
Sejarah :
Situs Arca Gupolo adalah kumpulan dari 7 buah arca berciri agama Hindu yang terletak di dekat candi Ijo.
Gupolo adalah nama panggilan dari penduduk setempat terhadap patung Agastya yang ditemukan pada area situs. Walaupun bentuk arca Agastya setinggi 2 meter ini sudah tidak begitu jelas, namun senjata Trisula sebagai lambang dari dewa Siwa yang dipegangnya masih kelihatan jelas. Beberapa arca yang lain, kebanyakan adalah arca dewa Hindu dengan posisi duduk.

FOTO-FOTO  Arca Gupolo





Read more
0

Candi Borobudur

Sejarah Candi Borobudur

Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi atau abad ke-9. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Candi ini dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra. Pendiri Candi Borobudur yaitu Raja Samaratungga yang berasal dari wangsa atau dinasti Syailendra. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar tahun 824 M dan selesai sekitar menjelang tahun 900-an Masehi pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani yang adalah putri dari Samaratungga. Sedangkan arsitek yang berjasa membangun candi ini menurut kisah turun-temurun bernama Gunadharma.
Kata Borobudur sendiri berdasarkan bukti tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa, yang memberi nama candi ini. Tidak ada bukti tertulis yang lebih tua yang memberi nama Borobudur pada candi ini. Satu-satunya dokumen tertua yang menunjukkan keberadaan candi ini adalah kitab Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Di kitab tersebut ditulis bahwa candi ini digunakan sebagai tempat meditasi penganut Buddha.
Arti nama Borobudur yaitu "biara di perbukitan", yang berasal dari kata "bara" (candi atau biara) dan "beduhur" (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta. Karena itu, sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu digunakan sebagai tempat ibadat penganut Buddha.
Candi ini selama berabad-abad tidak lagi digunakan. Kemudian karena letusan gunung berapi, sebagian besar bangunan Candi Borobudur tertutup tanah vulkanik. Selain itu, bangunan juga tertutup berbagai pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini mulai terlupakan pada zaman Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-15.
Pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro daerah Magelang. Karena minatnya yang besar terhadap sejarah Jawa, maka Raffles segera memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
Cornelius dibantu oleh sekitar 200 pria menebang pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan raksasa tersebut. Karena mempertimbangkan bangunan yang sudah rapuh dan bisa runtuh, maka Cornelius melaporkan kepada Raffles penemuan tersebut termasuk beberapa gambar. Karena penemuan itu, Raffles mendapat penghargaan sebagai orang yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat perhatian dunia. Pada tahun 1835, seluruh area candi sudah berhasil digali. Candi ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1956, pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk meneliti kerusakan Borobudur. Lalu pada tahun 1963, keluar keputusan resmi pemerintah Indonesia untuk melakukan pemugaran Candi Borobudur dengan bantuan dari UNESCO. Namun pemugaran ini baru benar-benar mulai dilakukan pada tanggal 10 Agustus 1973. Proses pemugaran baru selesai pada tahun 1984. Sejak tahun 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai World Heritage Site atau Warisan Dunia oleh UNESCO.
Read more
0

Situs percandian Batujaya (Kerawang)


Situs Batujaya terletak di dua desa Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum daerah  pantai utara Jawa Barat. Situs Batujaya merupakan gundukan tanah berisi sisa bangunan bata, yang oleh penduduk setempat disebut Unur. Hingga tahun 1999  tercatat sebanyak 26 unur yang berindikasi ke arah bangunan candi.
Tujuan penelitian ini terutama mengkaji masalah bentuk bangunan, fungsi bangunan, candi batujaya,kerawang, dan pendukung budaya pada masa bangunan itu berfungsi. Untuk mencapai tujuan penelitian, langkah penelitian berjalan sebagaimana metode penelitian arkeologi.
Langkah-langkah tersebut diurai dalam identifikasi, analisis bentuk, serta mencari pola persebaran candi-candi di wilayah Batujaya dan Cibuaya. Selain itu dilakukan pula penjabaran mengenai latar keagamaan atau kepercayaaan masyarakat  pendukungnya pada saat bangunan itu berfungsi sebagai sarana upacara mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan penempatan situs secara ekologis sangat mungkin karena kelangkaan air tawar, dan secara geomorfologis karena menghidari  banjir. Dalam analisis bentuk bangunan data bantu berupa analogi karya sastra Jawa  Kuna dan beberapa data prasasti memperlihatkan kesesuaian bahwa sisa bangunan mengacu kepada sebuah patirthan. Kemudian daripada itu, mengingat besar dan luasnya lahan serta banyaknya candi yang mungkin akan banyak lagi ditemukan pada masa mendatang, situs Batujaya sangat mungkin merupakan sebuah kompleks percandian yang menjadi pusat upacara (ceremonial centre).
Sementara itu, situs Cibuaya sampai saat ini hanya ditemukan 6 buah candi yang  jelas menunjukkan kehinduannya (Saiwa). Dan untuk sementara ini dapat diasumsikan bahwa situs Cibuaya adalah sebuah parahiyangan, sementara candi mana yang dianggap sebagai prasada, apakah candi Cibuaya I (Lemah Duwur  Lanang) dapat dianggap sebagai prasada ? Penelitian di masa mendatang tentunya akan memberikan jawaban yang lebih memuaskan.
Read more
0

CANDI JIWA


Situs Candi Jiwa adalah salah satu dari 17 Situs di Areal Situs Batujaya, disebut juga Situs Segeran 2 atau oleh Masyarakat setempat disebut Hunyur (Unur) Jiwa. Situs Candi ini berukuran 19 x 19 m dengan ketinggian 4,7 m dari permukaan sawah, pada bagian atas terdapat sejumlah bola tersusun melingkar diperkirakan adalah tempat Stupa.
Situs Candi Jiwa terbuat dari bata merah, dan hasil Carbon Dating menunjukan pada satu sisi menunjukan abad ke IV dan pada sisi lainnya menunjukan Abad ke VII Masehi, masa itu adalah Masa kejayaan Kerajaan Tarumanegara. Pada areal ini telah di exavasi pula Situs Candi Blandongan yang jaraknya hanya 100 m

Candi Jiwa di Batu Jaya, Karawang
Candi Jiwa merupakan bagian dari beberapa candi peninggalan jaman kerajaan Tarumanegara. Candi Budha ini pertama kali ditemukan oleh seorang petani pada tahun 1984 yang menemukan hewan gembalanya mati di tempat tersebut. Lokasi situs ini adalah di desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya, Kabupaten Karawang Jawa Barat, kira-kira 36 km dari Pasar Rengasdengklok.candi jiwa,kerawang,candi indonesia

Bersama Pandi pemandu yang juga penduduk setempat kami melihat-lihat candi Jiwa, Blandongan serta sumur tua yang berada pada situs candi Unur Lempeng. Pandi menceritakan selain sisa bangunan candi di situs tersebut juga ditemukan gerabah, kerangka manusia serta perhiasan dan pedang. Penggalian yang dipimpin oleh balai Purbakala dari Propinsi Banten ini. Candi Jiwa merupakan candi yang sudah selesai dipugar, seperti terlihat pada gambar. Sedangkan candi Blondongan masih dalam taraf rekonstruksi. Berikutnya mungkin adalah candi Unur Lempeng yang akan direkonstruksi.
Read more